Minggu, 21 Juni 2020

Perspektif Berbeda dalam Penulisan dan Penerbitan Buku

Belajar bersama orang-orang hebat
By: Yuliati

Bismillah....
10 Juni 2020

Pemateri yang dihadirkan oleh Om Jay malam ini adalah bapak Agung Pardini dan biasa dipanggil guru Agung. Seorang penulis, seorang Master teacher di Sekolah Guru Indonesia dan masih banyak lagi amanah yang diemban oleh guru Agung. Saat ini beliau bekerja di Dompet Dhuafa. Salah satu program Dompet Dhuafa yang sejak 2009   adalah SGI (Sekolah Guru Indonesia).

Dalam kesempatan kali ini, beliau memberikan perspektif berbeda dalam urusan penulisan dan penerbitan buku di bidang pendidikan dan keguruan. Berdasarkan pengalamannya bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Telah terbiasa untuk mengajak para guru-guru yang mengabdi di daerah-daerah pelosok untuk menulis dan berkarya.

Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, aktivitas menulis dan berkarya ini memiliki tantangan sendiri buat para guru-guru di sana. Adapun beberapa kendala tersebut adalah:
1. Gaya bahasa, ada beberapa istilah Bahasa Indonesia yang dimaknai secara berbeda di daerah.
2. Penggunaan komputer, banyak yang belum mengenal MS Office
3. Listrik, di beberapa wilayah hanya menyala di malam hari.
4. Ejaan yang (belum) disempurnakan

Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala diatas salah satunya adalah dengan model pendampingan intensif. Secara sabar para konsultan dan guru-guru relawan akan melakukan pendampingan dan bimbingan selama kurang lebih setahun. Bukan tugas yang mudah. Butuh kesabaran dari para relawan.

Beliau menjelaskan kembali bahwa Dompet Dhuafa sendiri dibangun oleh para jurnalis senior Republika di era-era awal. Sehingga setiap program yang dikerjakan buat pemberdayaan guru di daerah harus memiliki produk buku atau tulisan.

Ada beberapa ragam jenis kegiatan menulis dan berkarya yang biasa  diberikan kepada guru-guru di pelosok. Outputnya tidak harus buku, ada yang berbentuk PTK, jurnal, media pembelajaran, puisi, dan lain sebagainya.

Tentu saja timbul pertanyaan, bagaimana cara mengajarkan guru-guru itu menulis?

Beliau menjelaskan memiliki  cara yang unik. Yakni dengan menulis "Jurnal Perjalanan Guru". Jurnal ini wajib dikerjakan oleh setiap guru yang sedang mengikuti proses pembinaan di kampus SGI. Setiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama siang hari. Modelnya bisa macam-macam. Ada yang curhat, sampai ada yang membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan.

Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal tadi dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. Jadi ini bisa jadi semacam refleksi dan evaluasi. Yang mirip sekali dengan kebiasaan menulisnya *Om Guru Wijaya Kusuma*, yang senang menulis cerita harian di blog.

Melalui Kebiasaan menulis jurnal harian ini, Guru jadi terlatih buat menulis. Melalui jurnal ini pula  para pengelola dan dosen jadi tahu ttg perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati paa guru. Jika ada perasaan hati yang negatif, kita bisa langsung coaching atau konseling. Ada yang rindu keluarga, ada yang sakit hati... macam-macam ceritanya.

Satu hal penting yang beliau sampaikan "Kalau gak banyak baca, ya gak bakal banyak menulis." Membaca akan melatih kepekaan literasi mereka. Makanya  diadakan bedah buku rutin. Ada yang harian, ada yang pekanan.

Beliau melanjutkan, dalam proses pembinaan guru di SGI, setiap pagi  ada apel. Yang bertugas sebagai pembina apel (bergantian), dialah yang akan memberi kajian bedah buku.Tidak harus yang berat-berat, novel pun bisa.

Selain bedah buku, untuk memantau kemajuan bacaan para guru, setelah apel biasanya ada aktivitas "Semangat Pagi" Yakni memberi motivasi secara bergantian, dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh. Ini efektif juga buat meningkatkan kepekaan literasi buat para guru.

Beliau sangat percaya bahwa menulis buat para guru adalah lompatan dan percepatan peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri.
Banyak hal penting yang dapat kita pelajari dari apa yang disampaikan oleh Pak Agung kali ini. Luar biasa adalah kata yang pantas untuk menggambarkan orang-orang  hebat yang dihadirkan Om Jay dalam grup belajar menulis.

 Merasa beruntung memiliki kesempatan untuk belajar menulis bersama orang-orang hebat. Merasa rugi karena masih banyak rekan rekan guru di daerah yang sama yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan ini.

Harapan di hati ingin agar teman teman sesama pendidik satu daerah memiliki kesempatan dan keinginan yang sama untuk mengembangkan kemampuan menulis. Namun biarlah waktu yang akan menjawab harapan itu.

Keinginan untuk menjadi manusia yang mampu memberikan manfaat lewat tulisan adalah bagian dari passion diri yang masih harus terus digali. Agar mampu memberikan sesuatu yang akan dikenang meski sudah tutup usia. Seperti yang disampaikan guru Agung,"menulislah, maka engkau ada."

Guru Agung juga menyampaikan menulis bukan pekerjaan mudah. Perlu lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan kemampuan menulis. Perlu orang-orang yang satu persepsi sebagai pencinta literasi. Salah satunya adalah komunitas menulis. Berarti tak salah langkah jika aku memilih komunitas belajar menulis yang dibimbing Om Jay dan kawan-kawan. Orang-orang yang ikhlas berbagi dalam segala kondisi.

Semoga Allah memberikan balasan kebaikan yang banyak sebagai pemberat amal kebaikan di Yaumil hisab. Semoga tetap terjaga semangat untuk berbagi. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.