Minggu, 02 Agustus 2020

6 Kunci Agar Tetap Produktif Menulis

(Dr. Ngainun Naim, Penerbit Andi 3 Juli 2020)

By: Yuliati

Bismillah…

Dr. Ngainun Naim mengawali paparan malam ini dengan satu pendapat bahwa Guru adalah kunci penting dalam dunia pendidikan. Jika guru berkualitas, besar kemungkinan kelas yang diajarnya juga berkualitas. Tapi jika gurunya kurang berkualitas, tentu hasil pembelajarannya juga kurang sesuai dengan harapan. Sebuah pendapat yang tidak bisa disangkal dengan dalih apapun. Karena sebagai seorang pendidik penulis merasakan hal tersebut.

Literasi di kalangan dunia pendidikan telah lama ada. Namun kampanye maksimalnya hadir beberapa tahun terakhir. Salah satu kunci penting peningkatan kualitas guru adalah dengan membangun budaya literasi. Literasi berarti budaya membaca dan menulis. Seorang guru yang mau terus membaca buku dan menulis memiliki peluang untuk semakin meningkat kualitas dirinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak karya yang dihasilkan, maka akan memiliki kontribusi penting bagi kemajuan pendidikan.

# 6 Kunci Penting Dalam Menulis

Kunci itu alat untuk membuka. Alat yang bisa menjadikan kita produktif dalam menulis. Keterlibatan Bapak Ibu sekalian di grup ini ibaratnya untuk mendapatkan kunci. Tapi jika sekadar mendapatkan saja dan tidak dipraktikkan, tentu kunci itu kurang fungsional. Silahkan ditata mulai sekarang.

## Kunci Pertama Adalah Motivasi.

Apa motivasi kita saat ini? Silahkan ditata mulai sekarang. Motivasi menulis bisa berupa:

[1] motivasi karir. Mencermati komposisi anggota grup Menulis Bersama Om Jay, Dr. Ngainun Naim berkesimpulan bahwa menulis merupakan aktivitas yang berkaitan erat dengan profesi anggota grup. Implikasinya, semakin mahir menulis maka semakin lancar karir yang kita tempuh.

[2] motivasi materi; menulis itu menghasilkan honor. Bagi penulis yang sudah sangat terkenal, honor memang sangat berlimpah. Bukunya terus mengalami cetak ulang. Namun jumlah mereka yang beruntung dari sisi ini tidak terlalu banyak. Sebagian besar penulis justru kurang mendapatkan perhatian dari sisi materi.

[3] motivasi politik; menulis ditujukan untuk mencapai tujuan politik tertentu.

[4] motivasi cinta; menulis karena memang mencintai aktivitas menulis.

Nah, sekarang kita bisa memilih jenis motivasinya. Bisa juga menambah jenis motivasi di luar 4 yang telah disebutkan di atas. Namun perlu diingat bahwa apa pun motivasi yang dipilih maka akan mempengaruhi terhadap tulisan atau buku yang akan dihasilkan.

## Kunci Kedua Meyakini Bahwa Menulis Itu Anugerah.

Orang yang mau menulis tapi tidak mampu mengerjakannya; bisa karena kesibukan atau sejuta alasan lainnya. Banyak yang sesungguhnya mampu menulis tetapi tidak mau menulis. Karena itulah bisa menulis—bagi saya—adalah anugerah luar biasa yang harus disyukuri. Cara mensyukurinya adalah dengan terus menulis.

Beliau berpendapat bahwa mau dan mampu menulis itu anugerah. Bayangkan, saat S-1 kita setiap semester harus membuat makalah. Paling tidak satu semester harus membuat 10 makalah. Kalikan 10 halaman, berarti kan sudah 100 halaman. Kalikan 8 semester. Berarti kan sudah 800 halaman. Asumsinya 1000 halaman dengan laporan KKN, magang, skripsi.

Halaman pasti bertambah jika kita lulus S2. Apalagi jika sampai selesai doktor. Sekarang mari kita urai mengapa masih ada yang kesulitan menulis padahal pengalaman menulisnya sudah ribuan halaman. Beliau menyebutkan beberapa kemungkinan; [1] Selama kuliah spesial menjadi anggota kelompok yang tidak pernah menulis makalah. Biasanya ini yang spesial membiayai foto kopi; [2], tidak menulis karena dibuatkan orang lain; [3] menulis dengan melakukan “kanibal” tulisan orang lain. Misalnya mendapatkan bahan di googe lalu dipotong sana-sini sampai berbentuk layaknya tulisan; [4] begitu mendapatkan tugas langsung berburu referensi. Tidak berpikir apa yang harus ditulis. Begitu referensi didapatkan segera dibuka, diketik, lalu tutup. Ganti referensi berikutnya, dibuka, diketik, lalu tutup.

## Kunci Ketiga: Menulis Itu Memberikan Banyak “Keajaiban” Dalam Hidup.

Menulis itu memberikan banyak sekali manfaat. Pak Wijaya Kusumah--Omjay-- seorang bloger, youtuber dan guru kita semua, mengatakan bahwa menulis setiap hari itu telah memberikan keajaiban dalam kehidupan. Coba kita simak apa saja bentuk keajaiban yang beliau rasakan karena menulis.

[1] mendapatkan banyak materi. Karena rajin menulis, bukunya mendapatkan banyak royaliti.

[2] sering diundang sebagai pembicara di berbagai forum.

[3] memiliki banyak teman.

[4]. Bisa membeli peralatan yang dibutuhkan dalam kehidupan.

[5] tulisan adalah alat perekam kehidupan yang ajaib.

 

## Kunci Keempat: Tidak Mudah Menyerah.

Banyak orang ingin menulis, tentu termasuk menulis buku, tetapi semangat menulisnya naik turun. Saat ikut kegiatan kepenulisan semacam ini, semangat menulisnya berapi-api. Tetapi saat kembali ke dunia nyata, ke dunia kehidupan sehari-hari, semangat itu perlahan tetapi pasti memudar dan akhirnya hilang sama sekali. Saat bersemangat, menulis berlembar-lembar halaman dalam sehari terasa ringan. Saat tidak bersemangat, satu paragraf pun terasa berat sekali. Bahkan sangat mungkin berbulan-bulan tanpa menulis sama sekali. Menulis lima paragraf yang dilakukan rutin setiap hari jauh lebih baik daripada sepuluh halaman yang dilakukan tiga bulan sekali.

## Kunci Kelima: Berjejaring.

Jadi penulis jangan menepi. Memang saat sekarang kita harus menepi karena Corona, tetapi bukan berarti tidak berinteraksi. Bangun jejaring kepenulisan. Ikut kegiatan semacam pelatihan menulis ini juga dalam rangka berjejaring.

## Kunci Keenam: Menulis Sebanyak-Banyaknya.

Menulislah setiap hari tanpa henti. Lakukan secara terus-menerus. Jika Anda merasa tulisan Anda tidak baik maka dengan menulis setiap hari tulisan Anda akan otomatis menjadi baik.

6 kunci yang telah  diuraikan diatas bisa membuat membuat kita produktif menulis. Tinggal bagaimana kunci itu digunakan secara tepat. Tapi sekali lagi kunci itu adalah alat.

Semoga bermanfaat.

 


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.